SIDOARJO, Arjunanusantaranews.com, — Grebeg Suro 2026, Saat tradisi gamelan dan jaranan menyatukan warga Sidoarjo. Dalam puncak acara grebek Suro 2026, pelaku budaya dari puluhan komunitas hadir ikut dalam upacara budaya yang diawali dengan pecah pamor ( pecah kendi) yang dilakukan oleh Bopo H. Warih Andono, SH sebagai permohonan supaya warga Sidoarjo semua diberi keselamatan dari segala marabahaya.
“Arak-arakan dimulai, berjalan melintasi jalan Ahmad Yani mengelilingi alun-alun Kabupaten Sidoarjo, dan berbagai atraksi caplokan dan suara pecut bertubi-tubi menjadi perhatian masyarakat pengguna jalan.
Sementara acara malam hari, dengan suara alunan gamelan bertalu dari atas panggung. Sesekali suara pecut jaranan meletup memecah malam, disambut sorak dan tepuk tangan penonton yang memadati ujung selatan Alun-Alun Sidoarjo, Sabtu (20/6/2026).
Anak-anak duduk bersila di barisan depan. Para orang tua dan remaja berdesakan mencari tempat terbaik untuk menyaksikan pertunjukan. Sebagian memilih berdiri, bertahan hingga larut malam demi menikmati setiap adegan yang dimainkan para seniman.
Grebeg Suro 2026, Saat tradisi gamelan dan jaranan menyatukan warga Sidoarjo. Malam itu, panggung bukan sekadar ruang hiburan. Ia menjadi tempat bertemunya ingatan, tradisi, dan harapan untuk menjaga warisan budaya yang telah hidup turun-temurun di Kabupaten Sidoarjo.
Puluhan pelaku seni budaya dari berbagai padepokan dan komunitas budaya berkumpul dalam perhelatan Grebeg Suro 2026, sebuah rangkaian kegiatan yang digelar selama dua hari, Jumat (19/6/2026) hingga Sabtu (20/6/2026), untuk menyambut datangnya Bulan Suro dalam penanggalan Jawa.
Bagi masyarakat Jawa, Bulan Suro bukan sekadar pergantian waktu. Ia menjadi momentum refleksi, penghormatan kepada leluhur, sekaligus pengingat akan akar budaya yang membentuk identitas masyarakat hingga hari ini.

Karena itu, Grebeg Suro tidak hanya menghadirkan pertunjukan seni tradisi. Kegiatan ini juga menjadi ruang bersama untuk meneguhkan kembali kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga dan merawat kebudayaan lokal di tengah perubahan zaman.
Di bawah cahaya lampu panggung, para penari jaranan bergerak mengikuti irama gamelan yang mengalun dinamis. Sesekali suara cambuk yang menghentak membuat suasana semakin hidup. Penonton larut dalam pertunjukan yang menggabungkan unsur seni, ritual, dan ekspresi budaya rakyat yang telah mengakar selama puluhan tahun.
Wakil Ketua DPRD Sidoarjo H. Warih Andono SH yang hadir sebagai pimpinan dan dihormati dengan sebutan “Bapa” menyampaikan bahwa kekayaan budaya yang dimiliki Sidoarjo merupakan aset yang harus terus dirawat bersama.
“Sidoarjo itu memiliki ragam seni budaya yang banyak variasinya, maka kami ingin menyatukan dan membentuk wadah nguri-uri budaya yang ada di kabupaten Sidoarjo ini. Diawali oleh ” kegiatan kesenian tari jaranan jawi asli Putro Warso Wijoyo,” Karena itu, bila masyarakat berkenan, akan kita gelar nantinya setiap tahun,” ujarnya.
Pernyataan itu disambut antusias para pelaku seni yang selama ini menjadi penjaga tradisi di berbagai wilayah Sidoarjo. Bagi mereka, keberlanjutan kegiatan seperti Grebeg Suro menjadi penting agar generasi muda tidak kehilangan kedekatan dengan budaya leluhurnya.
Malam terus beranjak. Namun kerumunan warga tak segera beranjak pulang. Mereka masih bertahan menyaksikan setiap pertunjukan yang bergantian tampil di atas panggung.
Di tengah gemuruh gamelan dan hentakan pecut jaranan, Grebeg Suro 2026 menghadirkan satu pesan sederhana: tradisi akan tetap hidup selama ada masyarakat yang merawatnya, dan ada generasi yang bersedia meneruskannya.












