SURABAYA, Arjunanusantaranews.com, — Peserta Kecewa, Panitia Kongres Syarikat Islam Dianggap Gagal Total. Pelaksanaan Kongres Syarikat Islam (SI) ke-42 tampak berlangsung megah dan semarak. Berbagai rangkaian kegiatan kongres menjadi perhatian, terlebih dengan besarnya nama organisasi yang memiliki sejarah panjang di Indonesia.
Namun, di balik kemeriahan tersebut, muncul sorotan dari kalangan peserta atau anggota di tingkat bawah.
Acara Kongres Nasional Syarikat Islam (SI) ke-42 tersebut digelar di gedung Jatim Expo Surabaya, pada Minggu (18/10/2026) yang di hadiri ribuan peserta dari berbagai daerah yang ada di Jawa Timur.
Sesuai brosur yang beredar SI telah menyelenggarakan konser dengan bintang tamu Opick dan Sulis sebagai pelantun lagu religi islami, serta di hadiri Presiden Republik Indonesia Bapak Prabowo Subianto.
Daya tarik brosur konser tersebut diduga yang memicu peserta di wilayah Surabaya antusias bludak untuk hadir dalam acara di Kongres Syarikat Islam ke-42 tersebut, namun rupanya rasa senang menjadi pudar, kekecewaan peserta karena sistem yang dilaksanakan panitia masih di anggap amburadul, terutama panitia (Korlap) Sara dan Yadhi yang memberikan titik kumpul di Serambi Ampel yang jadi satu dengan panitia dari Sidotopo.
Ketidaktransparan panitia menyulut Sejumlah peserta mempertanyakan pemberian uang transportasi yang dinilai tidak seragam dan dianggap belum sebanding dengan kebutuhan mereka untuk mengikuti kegiatan kongres.
Informasi yang beredar di kalangan peserta menyebutkan, terdapat peserta yang hanya menerima uang transportasi sekitar 40.000 daerah Ampel dan Sidotopo, sedangkan Pacar Keling 50.000 , Sukolilo 60.000. Kondisi tersebut kemudian menimbulkan pertanyaan mengenai mekanisme serta dasar penentuan besaran transportasi bagi peserta.

Peserta Kecewa, Panitia Kongres Syarikat Islam Dianggap Gagal Total. Diambil dari chat Sara di groub , Ia cuma menyampaikan, ” sekali lagi kami mohon maaf atas kegaduhan yang terjadi hari ini”.
Kami selaku admin grup sekaligus koordinator lapangan sebelumnya sudah menyampaikan bahwa untuk pembagian amplop,konsumsi ataupun len merupakan tanggung jawab pihak panitia. Kami sebagai admin grup tidak mengetahui secara pasti berapa nominal yang ada di dalam amplop ataupun sistem pembagian konsumsi dan transport
Kami hanya membantu mencari peserta,mengoordinasikan peserta dan menyampaikan informasi yang kami terima dari pihak panitia.
Pertanyaannya;
Namun apa cukup dengan penyampaian seperti itu?
Lalu tindakan apa yang dilakukan bila ada kegaduhan seperti ini ?
Apakah segampang membalikkan telapak tangan dengan urusan orang banyak?
Seharusnya Korlap sebagai penyambung lidah harus mampu meminta kejelasan dan pertanggung jawaban atas terjadinya persoalan yang ia hadapi.
Catatan :
“Kalau memang kongres ini membawa nama besar Syarikat Islam, kami berharap perhatian terhadap peserta di bawah juga diperhatikan. Jangan sampai yang terlihat hanya kemegahannya, sementara kebutuhan peserta justru terabaikan,” ujar salah seorang peserta yang meminta identitasnya tidak mau disebutkan.
Persoalan tersebut menjadi perhatian karena peserta yang hadir tidak semuanya berasal dari wilayah sekitar lokasi kongres. Mereka harus mengeluarkan biaya transportasi, konsumsi, dan kebutuhan lainnya selama mengikuti rangkaian kegiatan.

Perbedaan pemberian uang transportasi juga menjadi pertanyaan tersendiri. Peserta berharap pihak panitia dapat memberikan penjelasan secara terbuka mengenai kriteria, mekanisme, dan besaran uang transportasi yang diberikan kepada masing-masing peserta.
Kongres seharusnya tidak hanya menjadi momentum memperlihatkan kemegahan acara dan kebesaran organisasi, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkuat rasa kebersamaan hingga ke tingkat akar rumput.
Jika benar terdapat peserta yang hanya menerima Rp40 ribu, sementara kebutuhan transportasi mereka jauh lebih besar, persoalan ini tentu perlu mendapatkan perhatian dan evaluasi dari pihak penyelenggara.
Hingga berita ini disusun, belum diperoleh penjelasan resmi dari panitia Kongres Syarikat Islam ke-42 mengenai mekanisme dan perbedaan pemberian uang transportasi tersebut.
Kemegahan kongres menjadi kurang bermakna apabila suara dan kebutuhan peserta di tingkat bawah tidak ikut mendapatkan perhatian.
Lebih miris lagi acara telah usai, namun rombongan peserta yang berangkat dari Serambi Ampel belum bisa pulang karena angkutan yang di carter tidak ada di tempat. Bahkan kendaraan transportasi semua peserta sudah bersih dan sudah meninggalkan lokasi acara.
“Hal seperti ini harus dijadikan evaluasi panitia dalam berbagai kegiatan, benar- benar profesional dan bertanggungjawab, Nar panggilan salah satu peserta menegaskan dalam acara kongres Syarikat Islam ke-42 ini panitianya gagal total” Ungkapnya.












