Scroll untuk baca berita
Example 325x300
Example floating
Example floating
Peristiwa

Tiket Habis Diduga Pemkot Sembunyi Dibalik Sistem Online

18
×

Tiket Habis Diduga Pemkot Sembunyi Dibalik Sistem Online

Sebarkan artikel ini

SURABAYA, Arjunanusantaranews.com, — Tiket babis diduga Pemkot Surabaya sembunyi dibalik sistem online. Ada apa sebenarnya dengan sistem tiket Kolam Renang Jambore?

Pertanyaan ini bukan muncul tanpa alasan. Ketika masyarakat hendak menikmati fasilitas yang dibuka untuk umum, mereka justru dihadapkan pada persoalan klasik: tiket online disebut sudah habis, sementara di lokasi tidak tersedia tiket untuk pembelian langsung.

Lalu rakyat harus bagaimana?

Sudah mencoba masuk melalui sistem online, gagal karena tiket habis. Datang langsung ke lokasi, ternyata tidak bisa membeli tiket.

Ini pelayanan publik atau permainan kesabaran masyarakat?

Kalau memang kapasitas pengunjung terbatas, publik tentu bisa memahami. Tetapi yang menjadi persoalan adalah seberapa transparan sistem tersebut dijalankan?

Masyarakat berhak mengetahui berapa kuota pengunjung setiap hari dan berapa jumlah tiket yang benar-benar dilepas kepada publik.

Jangan sampai masyarakat hanya tahu satu kalimat: “Tiket habis.”

Habisnya tiket bukan persoalan kalau mekanismenya jelas. Tetapi ketika tiket habis dan masyarakat tidak mendapatkan alternatif akses, wajar apabila muncul pertanyaan besar.

Siapa yang mendapatkan tiket? Berapa jumlahnya? Kapan tiket dibuka? Seberapa cepat tiket dinyatakan habis?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut semestinya mudah dijawab oleh pengelola karena seluruh proses dilakukan melalui sistem digital.

Justru teknologi seharusnya membuat pengelolaan semakin transparan.

Bukan malah membuat masyarakat semakin sulit mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di balik layar.

Tiket habis diduga Pemkot Surabaya sembunyi dibalik sistem online .Yang lebih menggelitik adalah ketika warga sudah datang langsung ke Kolam Renang Jambore tetapi tetap tidak mendapatkan kesempatan membeli tiket di lokasi.

Mengapa tidak disediakan kuota tiket langsung?
Apakah seluruh kuota memang sengaja diarahkan melalui sistem online?
Kalau jawabannya iya, apa dasar kebijakan tersebut?
Kalau alasannya untuk menjaga ketertiban, tentu bisa dijelaskan.
Kalau alasannya keterbatasan kapasitas, publik juga bisa memahami.

Tetapi jangan sampai masyarakat hanya diberi jawaban pendek tanpa penjelasan mengenai sistem dan kuotanya.

Sebab Kolam Renang Jambore bukan sekadar tempat rekreasi.

Fasilitas tersebut diperkenalkan sebagai fasilitas yang dapat dimanfaatkan masyarakat. Karena itu, ukuran keberhasilannya bukan hanya pada megahnya bangunan atau seremoni peresmian.

Ukuran keberhasilannya adalah ketika masyarakat benar-benar dapat mengakses dan menikmati fasilitas tersebut secara transparan dan adil sesuai ketentuan yang berlaku.

Maka Pemerintah Kota Surabaya jangan alergi terhadap pertanyaan publik.

Buka data tiketnya!
Jelaskan jumlah kuotanya!
Jelaskan mekanisme pemesanannya!
Jelaskan mengapa tiket cepat habis!

Dan jelaskan pula mengapa masyarakat yang datang langsung tidak mempunyai opsi membeli tiket di lokasi!

Jangan sampai publik dibuat bertanya-tanya apakah fasilitas tersebut benar-benar terbuka luas bagi masyarakat umum atau aksesnya memiliki batasan yang belum dipahami warga.

Sekali lagi, ini bukan tuduhan. Ini pertanyaan publik yang membutuhkan jawaban resmi.

Sebab kalau sistemnya memang transparan dan tidak ada persoalan, menjelaskan mekanismenya kepada masyarakat seharusnya bukan sesuatu yang sulit.

Pemkot Surabaya dan pengelola Kolam Renang Jambore kini ditunggu keterbukaannya.

Jangan biarkan masyarakat hanya mendapatkan fasilitasnya di dalam berita peresmian, tetapi ketika hendak menggunakannya justru berhadapan dengan kalimat:

“TIKET HABIS.”

Kalau memang untuk rakyat, jangan biarkan rakyat terus bertanya: KAPAN KAMI BISA MENIKMATINYA?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *